Banyak cara dilakukan masyarakat untuk menghilangkan stres, salah satunya dengan bermain gim. Namun, jangan sampai gim membuatmu menjadi kecanduan hingga menimbulkan kerugian buatmu hingga orang-orang di sekitar kamu. Seorang bocah laki-laki di Haimen, Jiangsu, Tiongkok menjadi salah satu korban akibat sangat terobsesi dengan video gim populer yang sedang naik daun ini. PlayerUnknown's Battlegrounds atau biasa yang akrab dikenal dengan PUBG ini dirasa menjadi faktor utama yang menyebabkan seorang bocah melompat dari lantai empat sebuah gedung dan meninggal secara tragis. Baca Juga Berlaga di Kompetisi PUBG Skala Dunia, Aerowolf ADS Berlatih Mati-matian Baru 4 Bulan Dirilis, PUBG Mobile Kantongi 100 Juta Download Cube TV Gelar Pelatihan Mobile Legends dan PUBG Berhadiah Rp 578 Juta Menurut ET Today, bocah malang bernama Xu Tianci jatuh dari lantai empat gedung apartemen di pagi hari pada (30/8/2018). Ibunya sangat sedih dan menyalahkan gim yang dimainkan oleh anak lali-lakinya tersebut. Ia mengatakan bahwa gim tersebut yang telah mempengaruhi putranya dan menyebabkan dia melompat dari bangunan. Bocah 13 Tahun Ini Tewas Akibat Main PUBG Kecanduan bermain video game ini dinyatakan menjadi penyebab tewasnya seorang bocah. PUBG adalah gim daring multiplayer online di mana terdapat seratus pemain yang akan terjun payung ke pulau demi mencari senjata dan peralatan untuk membunuh orang lain. Salah satu slogan gim ini berbunyi "Winner, winner chicken dinner" yang akan muncul apabila Anda merupakan pemain yang terakhir berdiri. Gim tersebut dirancang bagi pemainnya untuk dapat mengendalikan karakter supaya dapat berlari dan menembak orang lain itu juga dapat melakukan lompatan jarak jauh dari gedung ke gedung lainnya dengan mudah. Ibu Xu percaya bahwa permainan itulah yang menyebabkan putranya berpikir bahwa dia bisa melakukan seperti apa yang karakter tersebut lakukan dalam permainan yang ia mainkan. Sebelum Xu meninggal, diketahui bahwa bocah tersebut tengah bermain PUBG. 1 dari 2 halaman Sosok Xu di mata keluarga Bocah 13 Tahun Ini Tewas Akibat Main PUBG Kecanduan bermain video game ini dinyatakan menjadi penyebab tewasnya seorang bocah. Xu dikenal sebagai anak yang ceria dan baik hati. Ia pun juga memiliki banyak teman dan hidup dalam keluarga yang harmonis. Ibunya merasa tak ada alasan lain yang menyebabkan Xu bunuh diri selain karena memainkan gim tersebut. Sang ibu mengatakan bahwa dirinya akan segera menuntut perusahaan yang menciptakan permainan tersebut karena dia percaya bahwa permainan itulah yang telah mempengaruhi banyak orang lain yang ingin mencoba hal yang sama. Polisi yang menyidik kasus ini pun juga tidak menemukan kejanggalan sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa peristiwa tersebut dipengaruhi oleh PUBG. Pernyataan itu pun disambut dengan beragam respons pengguna jejaring sosial. Mereka berpendapat bahwa orangtua bocah itu telah mengabaikan putranya dan tidak memberi perhatian yang cukup. Pendapat itu langsung disanggah oleh sang ibu. Ia pun mengatakan jika gugatan yang dilemparkan kepada perusahaan gim tersebut menang, maka ia akan menyumbangkan seluruh uang tanpa mengambil sepeser pun. Bocah 13 Tahun Ini Tewas Akibat Main PUBG Kecanduan bermain video game ini dinyatakan menjadi penyebab tewasnya seorang bocah. "Saya ingin meningkatkan kesadaran tentang masalah ini sehingga tidak ada anak-anak lain yang menjadi korban selanjutnya karena terpengaruh oleh gim ini. Saya lebih memilih anak saya kembali daripada memiliki uang. Saya harap tidak ada orangtua lain yang mengalami hal yang sama seperti saya," katanya. Ini bukanlah kasus pertama di mana video gim telah mempengaruhi orang banyak untuk melakukan hal-hal gila seperti itu sebelumnya. Sebelumnya, ada insiden di Tiongkok di mana seorang anak laki-laki mendorong ayahnya saat tengah menuruni tangga karena Ia tidak ingin bermain PUBG dengannya. Untungnya, sang ayah hanya mengalami patah pada pergelangan tangan. Semoga kejadian serupa tidak kembali terjadi. Penulis:
mencuri perhatian di SXSW 2018 yang baru-baru ini diselenggarakan di kota Austin, Texas.
Dread Eye, gim Virtual Reality (VR) ber-genre horor menjadi produksi Indonesia pertama yang masuk dalam nominasi favorit pilihan pengunjung SXSW 2018.
SXSW atau South By South West adalah konferensi, pameran, dan festival yang dimulai sejak tahun 1987, yang awalnya merupakan sebuah forum diskusi entertaintment dan media.
Kini, perhelatan itu dikenal sebagai salah satu festival industri
kreatif dan teknologi masa depan terbesar dunia yang mempertemukan
puluhan ribu seniman, musisi, desainer fashion, filmmaker, penulis,
produser, perusahaan start-up hingga para penata grafik dan pembuat gim
online.
Hantu Indonesia
Selama dua hari pameran, puluhan pengunjung mengantri untuk mendapatkan giliran mencoba permainan VR di stand pameran DreadEye.
Permainan itu dinilai unik.
Kalau biasanya para gamers memainkan gim dengan hantu-hantu dari dunia barat seperti Freddy Krueger, Vampire, Warewolf, The Omen, Casper hingga Zombies, kali ini mereka harus bermain dengan hantu-hantu dari Indonesia seperti Pocong, Tuyul, Kuntilanak, mati anak dan Gendruwo.
"Ini adalah gim ketiga dari Digital Happiness," kata Adi Dharma, Community Manager dari PT Digital Semantika Indonesia.
Digital Happiness, sebuah perusahaan start-up digital gim dan animasi dari Bandung, yang dikelola oleh PT Digital Semantika Indonesia, mulai membuat gim sejak tahun 2013.
"Dalam DreadEye, seorang player akan bermain menjadi seorang dukun, dan harus mengikuti ritual dan resep tertentu. Kalau sudah menyelesaikan misi, maka dia bisa masuk ke gerbang dunia lain, dan bertemu dengan hantu-hantu lokal Indonesia," lanjut Adi.
Dread Eye, gim Virtual Reality (VR) ber-genre horor menjadi produksi Indonesia pertama yang masuk dalam nominasi favorit pilihan pengunjung SXSW 2018.
SXSW atau South By South West adalah konferensi, pameran, dan festival yang dimulai sejak tahun 1987, yang awalnya merupakan sebuah forum diskusi entertaintment dan media.
Baca Juga
- Batuk dan Demam Tinggi, PM Israel Menginap Semalam di RS
- Sejumlah Pantai Populer di Asia Tenggara Segera Ditutup, Ada Apa?
- Arkeolog Temukan Desa yang Hilang di Hutan Hujan Amazon
Hantu Indonesia
Selama dua hari pameran, puluhan pengunjung mengantri untuk mendapatkan giliran mencoba permainan VR di stand pameran DreadEye.
Permainan itu dinilai unik.
Kalau biasanya para gamers memainkan gim dengan hantu-hantu dari dunia barat seperti Freddy Krueger, Vampire, Warewolf, The Omen, Casper hingga Zombies, kali ini mereka harus bermain dengan hantu-hantu dari Indonesia seperti Pocong, Tuyul, Kuntilanak, mati anak dan Gendruwo.
"Ini adalah gim ketiga dari Digital Happiness," kata Adi Dharma, Community Manager dari PT Digital Semantika Indonesia.
Digital Happiness, sebuah perusahaan start-up digital gim dan animasi dari Bandung, yang dikelola oleh PT Digital Semantika Indonesia, mulai membuat gim sejak tahun 2013.
"Dalam DreadEye, seorang player akan bermain menjadi seorang dukun, dan harus mengikuti ritual dan resep tertentu. Kalau sudah menyelesaikan misi, maka dia bisa masuk ke gerbang dunia lain, dan bertemu dengan hantu-hantu lokal Indonesia," lanjut Adi.
Asing Namun Familiar
Sebelum
Dreadeye, umumnya para gamers di SXSW sudah lebih dulu mengenal hantu
dan setan ala Indonesia lewat Dreadout -- game yang dikembangkan Digital
Hapiness yang telah lebih dulu menembus pasar Amerika Serikat.
Jadi, karakter supernatural ala Indonesia, meski asing bagi yang lain, sudah cukup familiar bagi langganan game produksi Digital Hapiness.
"Lima puluh persen pembeli game pertama kita, Dreadout, datang dari pasar AS. Jadi para players secara tidak langsung sudah mengenal hantu-hantu lokal dari Dreadout," kata Adi Dharma, Community Manager dari PT Digital Semantika Indonesia.
Dreadeye sangat unik karena membawa cerita dari Indonesia, konten lokal yang dipresentasikan dan dipahami oleh konsumer Global.
"Sehingga bisa menjadi inspirasi bagi para game developer kita untuk membawa konten lokal ke tingkat global," kata Joshua P.M Simanjuntak, Deputi Pemasaran dari Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf).
Bekraf memberikan dukungan penuh kepada DreadEye dalam ajang SXSW itu.
Beberapa pengunjung lain sempat terdengar berteriak histeris karena kaget atau takut memainkan Dreadeye.
"Saya sangat terkejut bermain game ini, rasanya seperti ditusuk ke badan saya. Saya berusaha terus membuka mata saya. Saya sudah mencoba berbagai VR gim di pameran ini, game ini paling menakutkan", kata Poloma, dari Austin, Texas.
Sementara Ashley, player lain yang juga berasal dari Texas mengatakan, "Gim ini sangat bagus, desain dan soundnya sangat fantastis dan menakutkan. Dibandingkan dengan game-gim lain, saya pikir ini adalah VR game horor terbaik yang pernah saya mainkan."
Jadi, karakter supernatural ala Indonesia, meski asing bagi yang lain, sudah cukup familiar bagi langganan game produksi Digital Hapiness.
"Lima puluh persen pembeli game pertama kita, Dreadout, datang dari pasar AS. Jadi para players secara tidak langsung sudah mengenal hantu-hantu lokal dari Dreadout," kata Adi Dharma, Community Manager dari PT Digital Semantika Indonesia.
Dreadeye sangat unik karena membawa cerita dari Indonesia, konten lokal yang dipresentasikan dan dipahami oleh konsumer Global.
"Sehingga bisa menjadi inspirasi bagi para game developer kita untuk membawa konten lokal ke tingkat global," kata Joshua P.M Simanjuntak, Deputi Pemasaran dari Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf).
Bekraf memberikan dukungan penuh kepada DreadEye dalam ajang SXSW itu.
Beberapa pengunjung lain sempat terdengar berteriak histeris karena kaget atau takut memainkan Dreadeye.
"Saya sangat terkejut bermain game ini, rasanya seperti ditusuk ke badan saya. Saya berusaha terus membuka mata saya. Saya sudah mencoba berbagai VR gim di pameran ini, game ini paling menakutkan", kata Poloma, dari Austin, Texas.
Sementara Ashley, player lain yang juga berasal dari Texas mengatakan, "Gim ini sangat bagus, desain dan soundnya sangat fantastis dan menakutkan. Dibandingkan dengan game-gim lain, saya pikir ini adalah VR game horor terbaik yang pernah saya mainkan."
Comments
Post a Comment